KH. Cholil Ridwan anggap Jumpa Pers Ahmadiyah Konspirasi
12 butir pernyataan yang dibacakan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), ditengari murni rumusan Kabalitbang Depag, Atho Mudzhar
Hidayatullah.com—Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Ridwan. Kepada www.hidayatullah.com, Kiai Cholil mengatakan, ke 12 pernyataan tentang rujuknya Ahmadiyah itu cuma permainan saja. Menurutnya, semua butir pernyataan tersebut tidak keluar dari pihak Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) sendiri, tapi murni rumusan Kabalitbang Depag, Atho Mudzhar.
“Itu hanya konspirasi. Atho Mudzhar yang bikin itu, lalu ditawarkan ke Ahmadiyah untuk ditandatangani,” ujar Cholil Ridwan kepada www.hidayatullah.com via telepon tadi malam.
Cholil melanjutkan, sebenarnya Atho Mudhzar sudah berjanji untuk memberikan ke 12 butir pernyataan itu kepada MUI untuk dipertimbangkan sebelum dibahas di Rapat Bakor PAKEM. Tapi nyatanya, MUI baru mendapat salinan pernyataan itu kemarin malam. Sedang esok paginya (tadi pagi 15/1, red) Balitbang Depag sudah langsung mengadakan jumpa pers. Lalu siangnya, Bakor Pakem rapat dan langsung mengumumkan hasilnya.
“Jadi MUI tidak ada kesempatan untuk memberikan tanggapan,” kata Cholil.
Keterlibatan Kelompok “Liberal”?
Cholil mengatakan, dirinya sudah mencium adanya ketidakinginan dari pemerintah untuk melarang dan membubarkan Ahmadiyah. Sebab pada akhir pekan lalu, dirinya bersama Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin diundang rapat dadakan soal Ahmadiyah di rumah Wakil Presiden. Rapat dadakan itu juga dihadiri Menteri Agama, Kabalitbang Depag, juga Deputi Seswapres Bidang Kesra, Azyumardi Azra.
Pada rapat itu Atho Mudzhar menawarkan 12 pernyataan itu. MUI keberatan, karena tidak ada satu butir pun dari pernyataan itu yang dengan tegas menyatakan pengingkaran Ahmadiyah terhadap kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
Cholil juga menilai beberapa butir pernyataan itu bersifar karet. Seperti pada butir ke 5 pasal a. Bunyinya, Tidak ada wahyu syariat setelah Al-Qur’anul Karim yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurut Cholil, ini bisa saja ditafsirkan, bahwa para pengikut Ahmadiyah mengakui tidak ada wahyu syariat yang turun setelah Nabi Muhammad. Tapi mereka tetap meyakini wahyu yang tidak bersifat syariat yang dibawa Mirza Ghulam.
Cholil juga mempermasalahkan poin yang menyebutkan masalah baiat Ahmadiyah. Di situ sebutkan, bahwa yang maksud “Rasulullah” dalam 10 baiat JAI adalah Muhammad. Tapi mereka tidak mengatakan Mirza Ghulam itu bukan Nabi. “Hal itulah yang dimaksud pasal karet,” tegas Cholil.
Cholil juga mempermasalahkan beberapa nama yang ikut dalam penandatangan pernyataan JAI tersebut. “Seperti Azyumardi Azra, dia kan orang liberal. Lalu Agus Miftah. Ada urusan apa dia ngurusin ini?”
Cholil menambahkan, Amin Djamaluddin, dari Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI menyatakan siap untuk debat terbuka dengan Atho Mudzhar dan siapa pun juga tentang masalah kesesatan Ahmadiyah ini. [surya/www.hidayatullah.com]
1 comment so far
Leave a reply
Kalau ingin mengetahui dengan amat jelas dan tegas status Ahmadiyah dalam konteks kejadiannya sejak Adam sampai kiamat dipandang dari isi kitab suci nabi Muhammad saw. dan isi kitab suci yang dibawa oleh pemuka agama Nasrani Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza tahun 600-san masehi adalah sebagai berikut:
1. Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun pemuka-agama Nasrani adalah anak paman Siti Kahadijah 40 tahun dengan Muhammad 25 tahun adalah seorang yang amanah, patonah, sidik, amin dll. menikah dengan cara ritual agama dan beragama Nasrani, sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun, sebab waktu itu agama yang paling terkini adalah agama Nasrani.
2. Muhammad yakin mendapat kuliah isi kitab Nasrani (sekarang Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru) dari Waraqah minimal 15 tahun lamanya.
3. Itulah sebabnya nama-nama nabi dan rasul yang ada didalam kitab suci Nasrani disadur oleh Muhammad, kecuali nama Muhammad dan Ahmad sesuai Ali Imran (3) ayat 144, Al Ahzab (33) ayat 40, Muhammad (47) ayat 2, Al Fath (48) ayat 29 dan Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14.
4. Setelah Muhammad mendapat wahyu dalam uasia 40 tahun melalui jibril digoa Hira (simbul dalam kegelapan ilmu agama),sedang Musa mendapat wahyu langsung Allah sesuai Al A’raaf (7) ayat 144,145, Siti Khadijah dan nabi Muhammad saw. menceritakan peristiwa itu kepada Waraqah dan dijelaskan oleh beliau bahwa ipar keponakannya itu adalah seorang nabi yang dijanjikan sebagai sifat Taurat nabi Musa didalam kitab Ulangan 18:15 s/d. 22, Kisah para rasul 3:22,23 7:37.
5. Waraqah sifat Injil tidak mengikuti atau menganut agama nabi Muhammad saw. sifat Taurat disebabkan keduanya sangat sadar berazaskan ilmu persepsi tunggal agama, bahwa mereka berdua penganut agama tahun 1 masehi dan agama tahun 600-san masehi berjalan dengan hak yang sama-sama dan hak yang sejajar menuju kepada ilmu kebangkitan agama akhir zaman sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22 dan An Nisaa (4) ayat 159, Ali Imran (3) ayat 55 dan Kisah para rasul 1:9 s/d.11 (Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14), Yohanes 16:12 s/d.15; dan pengertian seperti ini adalah disebut dengan piagam Medinah yang wajib dipanuti oleh umat Kristen dan Islam hari ini, akan tetapi mereka (3 milyard umat nansrani dan 1,3 milayar umat Islam dimana jumlahnya lebih dari 50% penduduk bumi) tidak mengerti apa-apa tentang rahasia hal perdamaian Medinah seperti ini.
Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz pemuka Islam dan raja Vatikan Paus Benediktus XVI pemuka Nasrani (Katolik) HARI INI kalah terbelakang sekali selama 1.400 tahun lebih cara berfikirnya atau IQ-nya oleh Pemuka agama Nasrani Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza dan nabi Muhammad saw.
5. Hadits: Setelah Waraqah wafat, nabi Muhammad saw. bermimpi bahwa Waraqah telah masuk sorga waktu itu.
Untuk mendapat keterangan yang sejelas-gamblangnya
tentang peristiwa terbesar untuk panutan manusia awal millennium ke-3 masehi, bacalah buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL iKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE
Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” berukuran 63×60 cm.
Hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun.
Mendapat sambutan hangat tertulis dari Departemen Agama Republik Indonesia, SekDitJen Bimas Buddha, Pendeta Nasrani dan tokoh Islam Pakistan.
Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal
P.T. BUKU KITA
Telp. 021.78881850
Fax. 021.78881860
Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.